Suhu di Yogya Terik, Capai 34 Derajat Celcius

Minggu, 12 April 2009  

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Suhu udara di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam beberapa hari terakhir terasa panas. Bahkan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, suhu udara pada siang hari mencapai 34 derajat Celcius.
   
"Suhu udara di Yogyakarta sampai sekarang memang panas, bahkan pekan lalu suhu pada siang hari pernah mencapai 34 derajat Celcius," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta Toni Agus Wijaya, Minggu. 
   
Menurut dia, tingginya suhu udara di wilayah DIY disebabkan posisi matahari pada April ini belum jauh dari posisi tegak lurus di atas wilayah Indonesia. "Pada 23 Maret lalu posisi matahari tepat berada di atas katulistiwa, kemudian mulai bergeser ke utara, dan saat ini posisinya belum jauh dari posisi tegak lurus di atas wilayah Indonesia sehingga panas sinar matahari sangat terasa," katanya.
   
Sedangkan mengenai musim kemarau, ia mengatakan untuk wilayah DIY sebelumnya telah diperkirakan dimulai dari wilayah Kabupaten Gunungkidul pada dekade atau dasarian II April (antara 11-20 April)."Sekarang sudah tanggal 12 April, maka Senin (13/4) kami melakukan evaluasi terhadap perkiraan awal musim kemarau tersebut," katanya.  
   
Ia menyebutkan, dari perkiraan sebelumnya setelah Kabupaten Gunungkidul mulai memasuki musim kemarau pada dekade 11 April hingga 20 April, berturut-turut wilayah kabupaten/kota lainnya di DIY mulai Mei dasarian II (antara 11-20 Mei) yaitu Bantul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kulonprogo.  
   
"Diperkirakan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo awal musim kemarau bersamaan pada dekade III Mei (antara 21-30 Mei)," katanya.
   
Toni mengatakan, sebagian besar wilayah DIY saat ini masih musim pancaroba, peralihan dari musim hujan ke kemarau. Menurut dia, hujan pada musim pancaroba biasanya cenderung tinggi, namun durasinya pendek disertai petir dan angin kencang. Hujan biasanya terjadi pada sore dan malam hari.
   
"Pada musim pancaroba, peralihan dari musim hujan ke kemarau tetap berpeluang terjadi hujan dengan ciri-ciri seperti itu," katanya. Ia mengatakan, hujan yang terjadi pada musim pancaroba biasanya paling lama satu jam. "Namun yang perlu diwaspadai hujan yang terjadi biasanya disertai petir dan angin kencang," katanya.
   
Dia mengatakan, fenomena tersebut merupakan hal biasa, bukan cuaca yang ekstrem. "Itu biasa terjadi, hujan dengan ciri tersebut, dan fenomena ini bukan cuaca yang ekstrem," katanya.

ABI 
Sumber : Ant

Tidak ada komentar:

Posting Komentar